Kecelakaan Udara - Salah Siapa?

Kecelakaan Merebak – Salah Siapa?

Dengan pesatnya perkembangan media rasanya sulit temukan hari tanpa berita
Kecelakaan darat, laut dan udara, semuanya tersaji lengkap bak berita paripurna.
Bahkan yang luar biasa belum terjadi apa-apa, nuansa celaka sudah jadi berita,
Berita utama yang disiarkan langsung ke seluruh nusantara tak ubahnya realita.
Akibatnya? Semakin banyak yang terlena tidak sadar betapa hebat ikatan berita
Membelenggu siapa saja dan ini semua menentukan persepsi pikiran manusia.
Ambil saja contoh terkuaknya kusir sang singa isap sabu sebelum mengangkasa.
Karena gencarnya berita semua orang hampir percaya bahwa nunut sang singa
Menjadi pekerjaan sangat berbahaya karena saisnya melayang ke mana-mana.
Bagaimana sang singa terbang bisa dipercaya jika sang sais tak sadar jiwa raga?
Benar-benar luar biasa, sulit dipercaya, tetapi itulah realita dan fakta dunia nyata.

Tahun satu sembilan tujuh lima sang merpati yang terbang dari Ruteng ke Bima
Rontok dekat pulau Flores dan seluruh penumpang dan awak tewas tak bersisa.
Kondisi awak pesawatnya? Baik-baik saja tak ada yang mengkonsumsi ganja.
Dua tahun kemudian giliran sang garuda yang menjalani rute Medan Jakarta,
Menabrak gunung dan lagi-lagi semua manusia di dalamnya tewas begitu saja.
Awak pesawatnya? Sehat dan dipastikan tidak pernah mengkonsumsi narkoba.
Lima tahun kemudian masih sang perkasa garuda rute Mataram Yogyakarta.
Mendarat darurat di lagu ciptaan Gesang, untungnya hanya seorang pralaya.
Pilotnya? Handal, berpengalaman, sehat, dan ... tak konsumsi obat berbahaya.
Dua ribu empat sang singa udara rute Jakarta Surakarta kembali korbankan jiwa
Dua puluh penumpang tewas – mungkin sia-sia - dan satu empat dua luka-luka.
Saisnya? Ha ... ha ... ha ... baik-baik saja, sehat dan handal, tanpa psikotropika.
Setahun kemudian sang mandala dari Polonia berulah dan memilukan keluarga.
Bagaimana tidak, seratus penumpang dan empat puluh satu orang di darat sana
Harus pulang kembali ke dunia baka – walau memang ini adalah kehendakNya.
Tetapi menyalahkan sang kusir? Bagaimana bisa? Mereka tidak konsumsi ganja.
Tahun baru dua ribu tujuh, sang burung bernama manusia pertama, ke samudera
Tujuan akhirnya, akibatnya semua penumpang tak pernah ditemukan jasadnya.
Ke Manado burung ini tak sampai lalu apa karena saisnya kurang handal kerjanya?
Ternyata tidak karena konon kabarnya bukan narkoba tetapi masalah elektronika.
Dua bulan tujuh hari kemudian kembali garuda yang membuat ulah di Yogyakarta.
Tergelincir, terbakar dan santunan asuransi harus dibayarkan pada dua puluh dua.
Saisnya? Sangat berpengalaman, sehat, tidak terganggu kerjanya karena ganja.
Empat tahun kemudian di Kaimana sang merpati gagal mendarat sempurna.
Seluruh penumpang tak bersisa dan yang disalahkan pesawat buatan Cina.
Pilotnya? Tak ada yang salah dengan mereka dan pasti tidak ada narkoba.
Pesawatnya pun kemudian terbukti tidak bermasalah, handal dan baik-baik saja.
Inilah statistik sederhana yang menunjukkan bagaimana berita setengah dusta
Dapat membuat opini orang-orang nan sederhana berbelok arah entah ke mana.
Psikotropika amat dilarang tentu saja semua sepakat karena dampak jeleknya,
Ketagihan dan ketergantungan memang tak bagus meskipun pada dasarnya
Manusia adalah mahluk yang sangat tergantung dan ketagihan banyak benda.
Pilot konsumsi narkoba ditangkap memang sudah seharusnya tetapi beritanya
Seakan-akan pesawat yang dikendalikannya akan rontok begitu saja. Faktanya?
Semua kecelakaan udara di Indonesia bukan karena pilotnya konsumsi narkoba.

Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhi@yahoo.com

tribudhis 11 Feb, 2012

Mr. X 11 Feb, 2012


-
Source: http://andinewsonline.blogspot.com/2012/02/kecelakaan-udara-salah-siapa.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com